Biota Laut Manusia  

Pengantar

Pada Bulan Juni 2004, Yayasan Suara Nurani (YSN) melalui Program Perempuan, melaksanakan kegiatan program pengobatan gratis untuk warga korban Tambang khususnya di Buyat Pantai yang sudah menderita sakit sejak tahun 1998.

Dr. Jane Pangemanan MSi, direktur Yayasan Sahabat Perempuan (YSP), adalah dokter yang diajak untuk melakukan pengobatan pada tanggal 19 Juni 2004 di Buyat Pantai. Bersama-sama dengan 8 mahasiswa Pasca Sarjana Kedokteran jurusan Kesehatan Masyarakat, dr Jane Pangemanan menemukan gejala-gejala penyakit aneh yang hampir sama di derita oleh 93 orang pasien yang datang berobat.

Lebih kaget lagi ketika melihat seorang bayi 5 bln (Andini-Almarhumah), yang cacat sejak lahir, dengan dengan keadaan kulit seperti hangus terbakar, dan bermuka tua. Dr Jane kemudian, mengungkapkan fakta ini ke Seminar-seminar yang membahas kasus pencemaran PT NMR, dan buktinya fisiknya adalah penderitaan (penyakit) yang di alami warga Buyat Pantai.
Diagnosa yang disimpulkan oleh dr Jane Pangemanan, adalah warga Buyat Pantai menderita keracunan logam berat.

Keracunan yang di derita warga desa Buyat Pantai ini, ternyata sudah dibuktikan oleh penelitian seorang Dosen Fakultas Perikanan Ir. Markus Lasut MSc, dimana pada bulan Februari 2004, dari hasil penelitian terhadap 25 orang (dengan mengambil rambut warga) terbukti bahwa, 25 orang tersebut sudah ada kontaminasi merkuri dalam tubuh mereka.

Polemik tentang Penyakit akibat limbah NMR ini berkembang menjadi tajam, karena pihak Pemerintah dan Dinas Kesehatan terang-terangan membela NMR dengan mengatakan tidak ada pencemaran, bahkan dengan angkuhnya Ir. Bonny Sompie (Ketua BPLH, bahwa “NMR tidak perlu bertanggungjawab kepada publik, tetapi hanya bertanggungjawab kepada pemerintah saja”.

Untuk melakukan komparasi data tentang penyakit dari karakteristik penduduk miskin yang tinggal di daerah yang sama ( di tepi pantai, dan ikan menjadi sumber makanan dan sumber ekonomi warga), pada tanggal 2 Juli 2004, YSN kembali mengajak dr Jane Pangemanan dan mahasiswa kedokteran Unsrat untuk melakukan pengobatan gratis di desa Bajo, kecamatan Tumpaan Minahasa Selatan. Dari sejumlah pasien yang jumlahnya hampir 100 orang, penyakit yang ditemukan adalah penyakit kulit biasa, diare, malaria, dll atau penyakit umum. Diagnosa penyakit yang di derita masyarakat desa Bajo, sangat jauh berbeda dengan penyakit yang dikeluhkan oleh warga desa Buyat Pantai.

Tanggal 3 Juli Andini meninggal. Bayi cacat itu, menderita panas tubuh hanya dibagian kepala dan dada. Padahal 2 minggu sebelumnya dr. Sandra Rotti mengatakan, Andini hanya menderita penyakit kulit biasa dan malnutrisi. Bahkan bisa sembuh. Hal yang sama juga pernah dikatakan oleh dr Wensi Warouw. Polemik antara LSM dengan pemerintah kian memanas, sampai akhirnya YSN dan YSP mengambil langkah meminta dukungan LBH Kesehatan Jakarta untuk menindaklanjuti persoalan kesehatan warga Buyat Pantai yang sudah memakan korban, 4 orang dewasa dan 2 orang anak lahir cacat yang juga sudah meninggal.

Kamis, 15 Juli 2004, Tim dari LBH Kesehatan Jakarta tiba di Manado, langsung melakukan pembicaraan untuk tindak lanjut kasus dengan YSN (Jull Takaliuang dan dr Jane Pangemanan).

Jumat, 16 Juli 2004, dr Jane Pangemanan bersama beberapa orang warga Buyat Pantai didampingi LBH Kesehatan Jakarta, Perkumpulan Kelola, dan YSN melaporkan kepala Puskesmas Ratatotok dan Dinas Kesehatan Minahasa Selatan ke Polda Sulut, karena melakukan pembohongan publik,

Sabtu, 17 Juli 2004, Tim LBH Kesehatan Jakarta turun ke Lapangan (Buyat Pantai di dampingi YSN, dr Jane Pangemanan, dan Perkumpulan Kelola, dan ikut pula seorang konsultan CIDA, Lili Purba (specialist Gender Officer)

Minggu, 18 Juli 2004, 4 orang warga Buyat Pantai, di bawa ke Jakarta untuk berobat sekaligus pemeriksaan Medis dan laboratorium, oleh LBH Kesehatan Jakarta, di dampingi oleh dr Jane Pangemanan, Deni Mangundap dan Jull Takaliuang (YSN).

Sementara itu, korban-korban mulai bergelimpangan. Data terakhir (yang sempat dicatat), 4 orang dewasa meninggal dengan ciri-ciri sekarat yang sama yaitu dada kepanasan dan sulit bernapas tetapi suhu tubuh normal; 1 bayi lahir tanpa sempat hidup (nama ibu: Umiati Sagilateng, 30-an); 1 bayi lahir sempat hidup sekitar 3 jam karena kesulitan bernapas (nama ibu: Obay Modeong, 20-an), 1 bayi hydrosepalus sempat hidup 2 bulan (nama ibu: Hasmia Modeong, 30-an), dan terakhir 1 bayi lahir dengan nama Andini sempat hidup 5 bulan (nama Ibu: Masna Stirman, 30-an). Sedangkan 80% warga menderita simpton penyakit aneh seperti benjolan, sakit kepala, kelumpuhan, dan lain sebagainya.

Hasil-Hasil penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa kondisi lingkungan perairan di Teluk Buyat telah tercemar. Baik air laut maupun air sungai yang menjadi sumber kehidupan warga Buyat Pante.

Karena betapa sangat ironisnya, perekonomian warga Buyat Pante sangat jauh terpuruk sejak hadirnya PT NMR. Sementara hanya sekitar 1,5 km dari jarak mereka tinggal ada kekayaan dari perut bumi Indonesia yang di keruk dan dibawa pergi ke Amerika sementara limbahnya ditinggalkan untuk menyengsarakan rakyat.

Ketika nelayan Buyat Pante sudah tidak bisa mendapatkan ikan di jarak 0,5 mil dari pantai, mereka harus melaut bermil-mil untuk mendapatkan ikan untuk dijual maupun untuk di makan oleh keluarganya. Pendapatan mereka menurun jauh, karena ikan yang didapat pun jika untuk dijual belum tentu bisa dibeli orang.

Dalam kondisi yang ekonomi yang memprihatinkan tiba-tiba secara bersamaan juga mereka merasakan gejala penyakit aneh yang mendera hampir semua warga Buyat Pante.

Gejala penyakit yang timbul antara lain: Mual, pusing, sakit kepala yang hebat, persendian sakit, lemah, kram, gemetar, bahkan yang paling mengejutkan adalah munculnya benjolan pada bagian tubuh tertentu. Benjolan dialami oleh banyak warga dewasa termasuk anak-anak.

Beberapa perempuan mengalami keguguran berulang-ulang pada usia kehamilan 5-6 bulan, kelahiran anak yang cacat, dan ada beberapa ibu yang menyusui bayinya dengan sebelah payudara saja, Karena yang sebelahnya ada benjolan. Kesehatan reproduksi perempuan secara umum mengalami penurunan kualitas secara drastis.

Tetapi untuk mendapatkan layanan kesehatan dari Puskesmas tidak bisa, karena tidak punya uang untuk membayar. Sehingga mereka bertahan dengan penyakit yang mereka alami. Sebab untuk membayar Rp. 20.000,- pun bagi warga Buyat Pante harus mengorbankan beberapa hari untuk makan seluruh keluarganya.

Persoalan yang dirasakan dan dihadapi warga Buyat Pante ini, sudah disampaikan kepada pemerintah secara resmi baik di tingkat provinsi. Demikian pula ke DPRD Minahasa dan DPRD Sulut. Warga hanya mendapatkan umbar janji dari tahun-ke tahun. Malah respon urgen dari pemerintah adalah membentuk tim-tim untuk melakukan penelitian untuk membuktikan ada tidaknya pencemaran oleh PT. NMR.

Sebab, selama ini yang menjadi acuan pemerintah adalah hasil penelitian dan laporan reguler yang disampaikan oleh PT NMR 3 bulan sekali. Tidak ada laporan tentang penurunan kualitas kesehatan warga Buyat Pante yang tercantum. Bahkan ungkapan aneh seorang pejabat pemerintah, Ketua BPLH Sulut – Ir Bonny Sompie, tegas menyatakan di media massa bahwa “tidak ada pencemaran, PT NMR membuang limbah dalam “dos”, dan PT. NMR hanya bertanggungjawab kepada pemerintah saja, bukan kepada publik”.

Bulan-bulan seperti sekarang ini (Juli-September), saat gelombang besar angin Selatan mengobrak-abrik sedimentasi yang mengandung logam berat, bau menyengat hidung terbawa angin termasuk uap senyawa sianida ke arah Pantai dan dihirup oleh warga, maka semakin banyak korban-korban berjatuhan yang mengalami kejang-kejang, kram-kram bahkan sampai muntah-muntah berminggu-minggu seperti yang dialami seorang ibu dari 2 orang anak, Ahyani Lombonaung. Ia bahkan sempat lumpuh. Kelumpuhan juga pernah dirasakan oleh beberapa orang dewasa dan anak-anak.

 
Pengantar
Penderita